Selain China, Jepang dan Korea Selatan, Inggris merupakan satu-satunya negara eropa dengan budaya minum teh yang kuat.


Pasti kita bertanya-tanya, mengapa Inggris bisa memiliki budaya minum teh. Padahal, kebun teh saja mereka tidak punya. Teh memang berasal dari China, tetapi semenjak China membuka jalur perdagangan teh melalui jalur sutra, teh menjadi populer dan mulai menjejakkan kakinya di Eropa. Awal abad ke-17, pedagang Belanda dan Portugis adalah yang pertama kali membawa teh China ke Eropa. Portugis membawanya melalui Makau, sedangkan Belanda melalui Indonesia.

Sebagai negara yang membawa teh ke Eropa, bangsa Portugis terutama di kalangan bangsawannya sudah akrab dengan the. Virus minum teh di Inggris diperkirakan dibawa oleh Catherine of Braganza, putri kerajaan Portugis, saat dia menikah dengan Charles II pada 1662. Karena Catherine adalah seorang penikmat the, dia sering meminum teh di istana dengan cangkir dan teko dari China.kebiasaan ini perlahan diikuti oleh orang-orang istana karena Catherine kerap mengundang teman-temannya untuk pesta teh dan berbagai acara di The Royal Court.

Dari sinilah perdagangan teh dibuka oleh kongsi dagang Belanda East India Company. Pada 1664, terjadilah perdagangan pertama teh yang diimpor dari Jawa ke Inggris sebanyak 100 pound (kira-kira 45 kilogram). Seiring banyaknya peminat, teh menjadi kian populer dan pada 1750, jumlah impor teh ke Inggris sendiri mencapai 4,7 juta pound (sekitar 2,1 kilogram).

The pelan-pelan menjadi menu wajib di kerajaan Inggris, membuat teh menjadi semakin mahal, baik dari sisi harga maupun gaya hidup. Hal ini membuatnya semakin tak terjangkau bagi masyarakat umum di luar kaum bangsawan. Para bangsawan itu biasanya menikmati teh di beberapa kedai kopi. Karena sudah merasuk menjadi salah satu gaya hidup, kedai kopi pun semakin menjamur. Tentu saja penjualan teh yang tinggi ini membuat pemerintah Inggris mematok pajak yang tinggi untuk komoditi teh.

Pajak tinggi membuat banyak terjadi penyelundupan besar-besaran teh untuk bisa masuk ke Inggris. Jelas ini sangat memprihatinkan karena penyelundupan teh dilakukan dengan mencampurnya dengan daun lainnya. Ini membuat Richard Twinings, keturunan ketiga dari keluarga pengusaha Thomas Twinings, berusaha untuk menurunkan pajak teh agar penyelundupan berkurang, bahkan harga teh menjadi turun. Twinings sendiri merupakan salah satu produsen teh premium tertua di dunia, yang berumur hampir 300 tahun.

Memanfaatkan kedudukannya sebagai Ketua dari Pedagang The London, Richard membujuk Perdana Menteri Inggris saat itu, William Pit, dengan mengatakan pendapatan dari teh akan lebih banyak jika pajak diturunkan dan angka penyelundupan berkurang. Hasilnya, William Pit percaya dan mengeluarkan The Commutation Act pada 1785. Ini membuat teh menjadi terjangkau oleh semua orang. Walaupun begitu, pada 1819, pajak teh kembali dinaikkan 100 persen untuk mendapatkan dana perang melawan Napoleon. Namun, hal ini tidak terpengaruh pada penjualan karena teh sudah menjadi bagian dari kehidupan rakyat Inggris.

Secara umum, teh yang biasa diminum oleh orang Inggris adalah teh hitam seperti Earl Grey, Darjeeling, Lady Grey, dan lainnya saat afternoon tea. Sementara itu setelah makan biasanya menggunakan teh yang lebih ringan seperti Peppermint atau Teh Hijau. Sementara itu, menjelang tidur, biasanya mereka minum chamomile tea.

Kompas Klasika 09 Maret 2014

Advertisements